Iman kepada para nabi dan rasul Allah, merupakan salah satu rukun
iman.Keimanan seseorang itu tidak sah, sampai ia mengimani semua nabi
dan rasul Allah dan membenarkan bahwa Allah telah mengutus mereka untuk
menunjuki, membimbing dan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada
cahaya kebenaran. Ditambah juga keharusan membenarkan bahwa mereka telah
menyampaikan apa yang Allah turunkan kepada mereka dengan benar dan
sempurna, dan mereka telah berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan
Allah.
Adapun dalil tentang kewajiban iman kepada para rasul, ialah sebagai berikut:
Allah berfirman:
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ
كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ
نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari
Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya.
(Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun
(dengan yang lain) dari rasul-rasulNya," dan mereka mengatakan: "Kami
dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami, ya Rabb kami.
Dan kepada Engkaulah tempat kembali". [Al Baqarah:285].
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ
اْلأَخِرِ وَالْمَلَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ وَءَاتَى الْمَالَ
عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ
السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقاَمَ الصَّلَوةَ
وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِينَ الْبَأْسِ
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu
kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati
janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. [Al
Baqarah:177].
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ
وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي
أَنزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya, serta
kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada
Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari
kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [An
Nisaa’:136].
Dalam ayat-ayat tersebut di atas, Allah memerintahkan kaum mukminin
untuk beriman kepada Allah, RasulNya, Al Qur’an dan kitab suci yang
diturunkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kewajiban beriman kepada para
rasul.
Juga sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Jibril
yang terkenal, ketika ditanya tentang iman, Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam menjawab :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ كُلِّهِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitab suciNya, para RasulNya dan hari akhirat serta taqdir yang baik dan yang buruk.
Dalam hadits ini, Rasulullah menjadikan iman kepada para rasul termasuk
salah satu rukun iman. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Satu
keharusan dalam iman, (yaitu) seorang hamba beriman kepada Allah,
Malaikat, kitab-kitab suciNya, para RasulNya dan hari akhir. Dia harus
beriman kepada seluruh rasul yang diutus dan seluruh kitab suci yang
diturunkan.[1]
PERBEDAAN ANTARA NABI DAN RASUL
Para ulama berselisih pendapat dalam mendefinisikan nabi dan rasul [2].
Namun yang rajih (kuat), menyatakan rasul adalah seorang yang
mendapatkan wahyu dengan membawa syariat baru. Adapun nabi adalah
seorang yang diberi wahyu untuk menetapkan syariat sebelumnya.[3]
AN NUBUWAH (KENABIAN) ADALAH ANUGERAH ILAHI
An nubuwah (kenabian) merupakan perantara antara Sang Pencipta dengan makhlukNya dalam menyampaikan syariatNya.
Ditinjau dari sisi makhluk, an nubuwah merupakan duta antara Allah
dengan hambaNya, serta ajakan Allah kepada makhlukNya untuk mengeluarkan
mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Memindahkan makhlukNya
dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat. Sehingga
kenabian merupakan nikmat petunjuk dari Allah kepada hambaNya dan
anugerah Ilahi kepada mereka.
Adapun ditinjau dari diri rasul tersebut, maka kenabian merupakan
karunia Allah untuknya, pilihan Allah untuknya dari seluruh manusia dan
hadiah yang Allah khususkan kepadanya dari seluruh makhluk.[4]
Dengan begitu, kenabian tidak dapat dicapai dengan ketinggian ilmu,
ibadah dan ketaatan. Kenabian juga tidak dapat dicapai dengan semedi,
mengosongkan perut, meditasi dan yang lainnya. Namun kenabian merupakan
anugerah Ilahi semata, dan pilihan dari Allah, sebagaimana firmanNya:
اللهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia;
sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Al Hajj:75].
وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Dan Allah menentukan siapa yang dikehendakiNya (untuk diberi) rahmatNya
(kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. [Al Baqarah:105].
Demikianlah, kenabian adalah kedudukan dan martabat yang tinggi, yang
Allah khususkan kepada para nabi, semata-mata karena keutamaanNya, lalu
Allah mempersiapkan dan memudahkan mereka mengembannya. Dengan keutamaan
dan rahmatNya tanpa bersusah payah, Allah menjaga mereka dari pengaruh
syetan dan menjaganya dari kesyirikan.
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن
ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ
إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَاءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا
تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَـنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu
para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat
bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang
yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan
ayt-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur
dengan bersujud dan menangis. [Maryam:58].
Allah berfirman kepada Musa:
قَالَ يَامُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَآءَاتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ
Allah berfirman: "Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu
dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk
berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa
yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur". [Al A’raf:144].
Demikian juga Allah menceritakan pernyataan Nabi Ya’qub kepada anaknya :
وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ
اْلأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى ءَالِ يَعْقُوبَ
كَمَآأَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ
إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Dan demikianlah Rabb-mu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan
diajarkanNya kepadamu sebagian dari tabir mimpi-mimpi dan
disempurnakanNya nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub,
sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu
sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabb-mu Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Yusuf:6].
Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan, bahwa kenabian bukanlah sesuatu
yang dapat diraih dengan latihan dan pencarian dan angan-angan. Oleh
karena itu, ketika kaum musyrikin berkata:
وَقَالُوا لَوْلاَ نُزِّلَ هَذَا الْقُرْءَانُ عَلَى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaif) ini?” [Az Zukhruf:31]
Maka Allah menjawab dengan firmanNya:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم
مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ
بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمُت
رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجَمْعَوُنَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan
antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah
meninggikan sebagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat,
agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan
rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [Az
Zukhruf:32].
URGENSI IMAN KEPADA PARA NABI DAN RASUL
Pertama : Iman kepada kenabian (an nubuwah) adalah jalan mengenal untuk
Allah dan mencintaiNya. Juga merupakan piranti untuk mencapai keridhaan
Allah dan keselamatan dari adzabNya, serta menjadi dasar kebahagian dan
keselamatan di dunia dan akhirat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Iman kepada nubuwah merupakan
dasar pokok keselamatan dan kebahagiaan. Barangsiapa yang tidak memahami
benar permasalahan ini, akan bingung untuk mengetahui mana pintu
petunjuk dan kesesatan, iman dan kufur, dan tidak dapat membedakan yang
salah dan yang benar”.
Kedua : Kebutuhan hamba Allah untuk mengakui kenabian lebih besar dan
mendesak daripada kebutuhan mereka terhadap udara, makanan dan minuman.
Sebab, akibat kehilangan udara, makanan atau minuman hanyalah kematian
dan kerugian dunia. Berbeda jika ia tidak mengakui kenabian, akan
mengakibatkan kerugian di dunia dan akhirat.
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata,”tanda-tanda kenabian termasuk
menjadi bukti-bukti rububiyah Allah. Semuanya jelas dan nyata pada
setiap orang, seperti kejadian yang tampak terlihat; karena makhluk
membutuhkan pengakuan kepada Sang Pencipta dan para rasulNya.[5]
Tidak diragukan lagi, setiap makhluk yang mukalaf membutuhkan untuk
mengenal Allah, iman kepadaNya, beribadah kepadaNya dan mengenal para
rasulNya serta mentaatiNya?. Oleh karena itu, Allah memudahkan hambanya
untuk mendapatkan hal-hal tersebut.
Syaikh Islam berkata,”Sesungguhnya sesuatu yang dibutuhkan pengenalannya
oleh manusia seperti iman kepada Allah dan RasulNya, maka Allah
menjabarkan dan memudahkan jalan mendapatkannya. [6]
Kemudian Syaikh Islam Ibnu Taimiyah menambahkan : “Demikianlah, setiap
kali manusia sangat butuh mengenal sesuatu. Maka Allah memudahkan mereka
dengan bukti-bukti yang mengenalkannya, seperti bukti-bukti yang
menunjukkanNya, bukti-bukti kenabian RasulNya dan bukti-bukti ketentuan
taqdir dan ilmuNya”.[7]
Dalam masalah ini, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya
Allah menjadikan para rasul sebagai perantara antara Dia dengan
hambaNya, dalam mengenalkan kepada mereka apa-apa yang bermanfaat dan
yang merugikan mereka, dan menyempurnakan apa-apa yang mashlahat bagi
kehidupan dunia dan akhirat mereka. Para rasul ini seluruhnya diutus
untuk berdakwah kepada Allah, mengenalkan jalan untuk sampai kepada
Allah dan menjelaskan keadaan mereka setelah sampai kepadaNya.
Selanjutnya beliau rahimahullah menjelasakan beberapa pokok yang perlu diperhatikan :
Pokok pertama : Mengandung penetapan sifat-sifat Allah, tauhid dan
taqdir, serta penjelasan perlakuan Allah terhadap para wali dan
musuhNya. Yaitu yang Allah kisahkan kepada hambaNya dan permisalan yang
dibuat untuk mereka.
Pokok Kedua : Mengandung perincian syari’at, perintah, larangan dan
perkara mubah, serta penjelasan apa-apa yang dicintai dan dibenci Allah.
Pokok ketiga : Mengandung iman kepada hari akhir, syurga, neraka, pahala dan siksaan.
Al khalqu (penciptaan) dan al amru (selain penciptaan), berporos kepada
tiga pokok ini. Begitu pula kebahagiaan dan kesuksesan pun tergantung
padanya. Tidak ada jalan untuk mengenal semua ini, kecuali dari para
rasul; karena akal tidak mengerti perincian dan tidak dapat mengenal
hakikatnya; walaupun akal dapat mengenal sesuatu yang darurat darinya
secara global, seperti layaknya orang yang sakit, ia memerlukan obat dan
orang yang mengobatinya, namun tidak mengetahui diagnosa penyakit dan
resep obatnya.
Kebutuhan hamba kepada risalah, jauh lebih besar dari kebutuhan orang
sakit terhadap pengobatan. Pasalnya, karena batas perkiraan dengan tidak
adanya thabib (dokter) adalah kematian badan. Sedangkan seorang hamba,
jika tidak mendapatkan cahaya dan pancaran risalah, maka ia telah mati
sebelum waktu ajalnya, dan tidak diarapkan akan ada kehidupan dalam
dirinya untuk selamanya, atau ia akan sengsara dengan kesengsaraan yang
tidak akan diselingi kebahagiaan selama-lamanya.. Oleh karena itu, tidak
ada keberuntungan, kecuali hanya dengan mengikuti Rasul”.[8]
Ibnul Qayyim berkata: “Dari sini diketahui, urgensi seorang hamba untuk
mengenal rasul, ajaran dan membenarkan beritanya, serta mentaati
perintahnya, melebihi segala kepentingan lainnya. Sebab, tidak ada jalan
kebahagian dan kesuksesan di dunia dan akhirat, kecuali hanya di tangan
para rasul. Tidak ada jalan mengenal kebaikan dan kejelekan secara
terperinci, kecuali dari mereka. Dan tidak akan mendapatkan keridhaan
Allah, kecuali dengan mereka. Perkara baik dari amalan, perkataan dan
akhlak, tidak lain adalah petunjuk dan ajaran mereka. Amalan, perkataan
dan akhlak mereka merupakan timbangan untuk seluruh amalan, perkataan
dan akhlak manusia. Dengan mengikuti mereka, terseleksi orang yang
mendapat petunjuk dan yang sesat. Sehingga kebutuhan manusia terhadap
mereka lebih besar dari kebutuhan badan kepada nyawanya, mata terhadap
cahaya dan nyawa terhadap kehidupannya. Apapun kepentingan dan kebutuhan
yang terbetik, kepentingan dan kebutuhan hamba terhadap para rasul
lebih tinggi di atasnya. Bagaimana tanggapan anda terhadap sosok yang
petunjuk dan ajarannya jika hilang darimu sekejap mata saja akan merusak
hatimu, dan menjadi seperti ikan yang terpisah dengan air dan
diletakkan di penggorengan? Seperti itulah keadaan hamba ketika hatinya
lepas dari ajaran para rasul, bahkan bisa lebih fatal lagi. Namun tidak
akan ada yang merasakan hal ini, kecuali kalbu yang hidup” [9].
KANDUNGAN IMAN KEPADA PARA NABI DAN RASUL
Pertama : Meyakini dengan benar dan mantap bahwa Allah Subhanahu wa
Ta'ala telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak
untuk menyembah Allah saja dan mengkufuri sesembahan selainNya.
Artinya, substansi dakwah para rasul, dari yang pertama sampai yang
terakhir sama, yaitu mentauhidkan Allah dalam uluhiyah, rububiyah dan
asma’ wa sifat (nama dan sifat Allah), dan meniadakan lawannya atau
meniadakan kesempurnaannya [10]. Begitulah, para nabi dan rasul membawa
agama satu, yaitu Islam, dan setiap rasul menegaskan kepada kaumnya:
يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain Dia. [Al Mu’minun:23].
Dan firmanNya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu. [An
Nahl:36].
Seluruh syariat mengajak kepada tauhid. Itulah inti sari dakwah para
rasul sejak Nabi Nuh Alaihissallam sampai Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam.
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Inilah agama nabi yang pertama
sampai nabi terakhir dan para pengikut mereka, yaitu Islam. Agama Islam
itu, intinya ialah beribadah kepada Allah saja yang tidak ada sekutu
bagiNya. Ibadah kepada Allah di setiap waktu dan tempat, yaitu dengan
mentaati para rasulNya. Sehingga seorang hamba beribadah kepadaNya
dengan tidak menyelisihi ajaran para rasul tersebut, sebagaimana orang
yang Allah ceritakan dalam firmanNya:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang
mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. [Asy
Syura:21].
Tidaklah beriman kepada Allah, kecuali orang yang beribadah kepada Allah
dengan mentaati para rasulNya. Dan tidaklah beriman kepada Allah dan
beribadah kepadaNya, kecuali orang yang beriman kepada seluruh para
rasul dan mentaati mereka. Sehingga setiap rasul ditaati sampai datang
rasul berikutnya, lalu ketaatannya diberikan kepada rasul yang
tersebut”. [11]
Kedua : Beriman bahwa para rasul adalah orang yang memberikan petunjuk
dakwah dan bimbingan menuju hidayah, sebagaimana firman Allah :
إِنَّمَآأَنتَ مُنذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ
Sesunguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. [Ar Ra’d:7].
Dan firmanNya.
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ صِرَاطِ اللهِ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah. [Asy Syura:52, 53].
Adapun hidayah taufiq, hanyalah di tangan Allah, Dialah yang membolak-balik hati dan mengatur segala perkara.[12]
Ketiga : Membenarkan kerasulan dan mengakui kenabian mereka. Meyakini
bahwa mereka jujur dan benar dalam menyampaikan semua yang dari Allah.
Mereka telah menyampaikan risalah Ilahi, serta menjelaskan kepada semua
manusia semua, yang tidak mereka ketahui [13]. Para rasul tidak pernah
menyembunyikan satu huruf pun dari risalah Ilahi. Mereka tidak merubah,
menambah dan mengurangi dengan sesuatu. Allah berfirman:
فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ
Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. [An Nahl:35].
Barang siapa yang mengkufuri salah seorang dari mereka, berarti telah
mengkufuri seluruh para rasul dan kufur terhadap Allah yang mengutus
mereka. Allah berfirman.
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ
كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ
نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari
Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya.
(Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun
(dengan yang lain) dari rasul-rasulNya," dan mereka mengatakan: "Kami
dengar dan kami ta'at". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Rabb kami,
dan kepada Engkaulah tempat kembali". [Al Baqarah:285].
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن
يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ
وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً
أُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ
عَذَابًا مُّهِينًا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ
يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ أُوْلاَئِكَ سَوْفُ يُؤْتِيهِمْ
أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan
bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan
rasul-rasulNya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian
dan kafir terhadap sebahagian (yang lain)," serta bermaksud (dengan
perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman
atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami
telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang
menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya dan
tidak membedakan seorangpun diantara mereka, kelak Allah akan
memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. [An Nisaa:150, 152].
Keempat : Beriman bahwa Allah meninggikan derajat sebagian rasul atas
sebagian lainnya. Menjadikan Nabi Ibrahim Alaihissallam dan Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai khalilNya. Berbicara
kepada Nabi Musa Alaihissallam, mengangkat Nabi Idris Alaihissallam pada
martabat yang tinggi, dan menjadikan Nabi Isa Alaihissallam sebagai
hamba dan rasulNya serta Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن
كَلَّمَ اللهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَءَاتَيْنَا عِيسَى ابْنَ
مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang
lain. Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia)
dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan
kepada 'Isa putera Maryam beberapa mu'jizat, serta Kami perkuat dia
dengan Ruhul Qudus. [Al Baqarah:253].
وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi khalilNya (kesayanganNya). [An Nisaa:125]
قَالَ يَامُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَآءَاتَيْتًكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ
Allah berfirman: "Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu
dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk
berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa
yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur". [Al A’raf:144].
وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. [An Nisaa:164]
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang
disebut) di dalam Al Qur'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat
membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat
yang tinggi. [Maryam:56, 57].
Kelima : Beriman kepada para nabi dan rasul secara umum, baik yang telah
kita ketahui maupun yang belum kita ketahui. Demikian juga beriman
secara khusus kepada setiap nabi dan rasul yang telah Allah sebutkan
namanya, dengan berkeyakinan bahwa Allah memiliki para rasul lainnya
yang tidak Dia kisahkan. Allah berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu,
diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka
ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. [Al Mu’min:78]
Keenam : Mentaati para nabi dan rasul dengan mengikuti seluruh perintah
mereka dan menjauhi seluruh larangannya, serta berjalan di atas manhaj
mereka. Karena, mereka telah menyampaikan syari’at dari Allah. Mereka
sebagai contoh teladan bagi umat mereka. Allah memberikan kema’suman
kepada mereka dalam menyampaikan berita dari Allah dan risalahNya
menurut kesepakatan umat. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ قُلْ أَطِيعُوا
اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ
الْكَافِرِينَ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan
RasulNya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang kafir". [Ali Imran:31, 32]
Taat dan ibadah kepada Allah dengan mengikuti dan mencontoh mereka.
Sedangkan yang menjadi kewajiban kita adalah beramal dengan syari’at
rasul yang diutus kepada kita, yaitu Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam, yang menjadi penutup sekalian para nabi dan rasul. Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk segenap umat manusia. Allah
berfirman:
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman, hingga mereka
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An Nisaa:65].
Demikianlah sebagian pembahasan mengenai iman kepada rasul. Mudah-mudahan bermanfaat.
Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VIII/1425H/2004M
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.
8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]